Blog suka-sukanya Raffa

Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

[Cerpen] Cinta Diujung Pelangi *Special Arthur-Mary Couple

TITLE : Cinta Diujung Pelangi
AUTHOR : Raffa (Re-Post)
GENRE : Romance
RATING : R
CAST : Arthur , Mary , Jeje
CREATED : Jumat, 07 Juni 2013

HARAP MENGIKUTI PERATURAN BLOG UNTUK TIDAK MENCOPAS SEBUAH KARYA. TERIMAKASIH ^^'

*Postingan disini dilindungi tynth.com


          Saat itu musim hujan datang mengguyur kawasan puncak, Bogor. Hujan yang tenang. Tanpa kilat atau badai. Mahakarya Tuhan telah menciptakan butiran demi butiran air, yang memberatkan awan hingga ia jatuh ke bumi. Saat-saat inilah yang paling ditunggu-tunggu Mary. Memainkan air hujan yang jatuh ketangannya. Terduduk manis menonton pemandangan alam yang basah. Kadang Arthur suka marah jika Mary nekat keluar dan berlari-larian di tengah hujan bak anak kecil. Tapi kali ini Mary nampak kalem. Memandangi hujan dibalik jendela.

          "sayang, nonton hujannya masih lama?" tanya Arthur yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Mary.

          "iya, sayang. Tunggu sebentar lagi ya!" jawab Mary tanpa memalingkan pandangannya.

          Ia masih fokus dengan pemandangan didepannya. Sejenak keadaan hening. Hingga hujan berhenti. Menyisakan tetesan hujan yang jatuh dari sela-sela atap dan dedaunan. Dan Mary masih terus menontonnya. Seperti menanti sesuatu.

          "yang, kenapa sih kamu suka banget ngeliatin hujan? Apa yang kamu tunggu?" tanya Arthur kembali memecah keheningan.

          "pelangi!" seru Mary sambil tersenyum sumringah. Membuat Arthur turut melihat apa yang Mary lihat.

          Sebuah pelangi telah terlukis dilangit. Pelangi yang besar dan indah.

          "indah banget ya Ry!" puji Arthur.

          "iya. Ini yang aku suka Thur. Setelah hujan datang pasti selalu ada pelangi yang mendampingi langit. Menakjubkan!" puji Mary.

          Arthur hanya tersenyum simpul. "iya sayang. Aku juga suka." ucapnya seraya membelai lembut rambut Mary dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya meraih sesuatu yang ada dikantungnya. Sebuah kotak berisikan cincin yang akan ia berikan pada pujaan hatinya.

          Apa sekarang waktu yang tepat ya buat bilang ke Mary? Tanya Arthur dalam hati. Perasaannya mencoba untuk menerka keadaan. Apakah ini waktu yang tepat? Pasalnya, selama Arthur berniat untuk melamar Mary, selalu saja ada halangannya. Tidak pernah tepat!

          "sayang, ada satu pertanyaan yang membuat aku bingung." kata Mary kemudian.

          "apa tuh?"

          "kalo pelangi bentuknya setengah lingkaran, berarti ujung pelangi itu ada dimana ya? Kamu tau gak?"

          Arthur bingung harus menjawab pertanyaan yang agak aneh itu dengan apa? Ia hanya menggeleng pelan "emm.. Aku gak tau juga. pelangi itu kan ada banyak. Pasti ujungnya bisa dimana-mana juga lah sayang."

          "hmm.." Mary nampak sedikit kecewa dengan jawaban Arthur. "Saat kita menikah nanti. Aku mau deh kita bisa melaksanakan akad dan resepsi diujung pelangi. Jadi aku bisa liat pelangi lebih dekat dihari membahagiakan kita. Tapi kayanya itu gak mungkin terjadi." Mary tertunduk murung.

          Perkataan Mary membuat Arthur tak tega. Hatinya tergerak saat mendengar kata "gak mungkin terjadi" pada topik pernikahannya. Tidak! Arthur tidak akan mengecewakan Mary. Arthur tidak ingin melihat Mary bersedih. Arthur tidak ingin kata “gak mungkin terjadi” itu benar-benar terjadi.

          Mary bawa-bawa tentang rencana pernikahan kita. Iya! Mungkin ini udah waktunya buat gue... Serunya menggantung dalam hati.

          "Mary, sebenarnya aku..." dikeluarkannya kotak yang sedari tadi ia pegangi dikantung celananya. Ia perlihatkan cincin perak bermahkotakan berlian itu, dan ia pakaikan pada jemari Mary. Sungguh, Mary benar-benar terkesima melihatnya. "...meskipun aku gak tau dimana itu ujung pelangi, tapi kasih aku kesempatan untuk mencarinya! Aku akan buat kamu kagum! Aku janji aku gak akan temuin kamu sebelum aku menemukan tempat pernikahan kita itu. Untuk itu kamu pake dulu cincin ini." sambung Arthur.

          "beneran Thur? Kamu mau nyari tempat itu buat aku?" seru Mary kegirangan.

          Arthur mengangguk pasti. "tapi kamu harus janji sama aku, setelah aku udah nemuin tempatnya, kita bisa langsung nikah! Janji?!" kata Arthur menjulurkan kelingkingnya sebagai bukti perjanjian mereka.

           “Janji!” Kelingking mereka mengait satu sama lain. Kini Mary tersenyum sepuluh kali lipat lebih manis dari biasanya. Senyuman ini... Arthur tak akan mungkin membuat senyum ini hilang dari wajah manis Mary. Ia tak mau mengecewakannya. Ia harus mencarinya!

***

          "Apa? Ujung pelangi?" pekik Jeje bingung, saat sahabat karibnya itu menceritakan soal permintaan ujung pelangi dari Mary.

          "iya Je. Lu bisa gak bantuin gue? Lo kan photografer hebat! Suka motret pemandangan alam. Kalo masalah pelangi, lu udah biasa kan? Ayolah! Please! Bantu gue!" pinta Arthur memelas.

          "Arthuuur... gue kan photografer. Bukan pakar pelangi. Kalo moto pelangi gue emang sering. Tapi kalo ujung pelangi? Gue gak tau deh!" tutur Jeje yang kemudian melanjutkan kegiatan memotret pemandangannya.

           “Ayolah! Je!! Please!!! Bantuin gue cari ujung pelangi buat Mary!! Please!! Lo kan sahabat gue yang paling baiiikkkkk!!!!!!” pinta Arthur tak menyerah.

           “Hmmm...” Jeje menghela nafas lelah. Lalu beralih menatap sahabatnya dari kecil ini. “Oke..oke.. gue bakal bantu lo sebisa mungkin!”

           “Bener? Yeee!! Makasih Je! Lo emang sahabat gue yang paling the best deh!” Arthur memeluk erat sahabatnya itu dengan gembira.

           “A..aduuhh.. lepasss!! Gue gak bisa napaaassss!!!” seru Jeje setengah berteriak.

           “oo..hehe..maaf!” ucap Arthur cekikikan.

***

          Mencari ujung pelangi memang tidak mudah. Bagaimana kalau ujungnya ada diatas bukit? Ditengah kebun teh? Bagaimana kalau pelangi itu sangat besar dan panjang hingga ia hilang sebelum Arthur dan Jeje menemukannya? Lagipula, pelangi kan biasanya tak akan bertahan lama. Bagaimana kalau saat mereka sudah menemukannya, Arthur belum sempat mengajak Mary dan pelangi itu sudah keburu hilang?

          Sedari tadi pertanyaan itulah yang membuat Arthur dan Jeje pusing. Tapi Arthur tetap kekeuh ingin mencarinya untuk Mary. Sahabatnya pun tak kuasa menolak. Iba melihat perjuangan dan pengorbanan seorang Arthur yang berusaha mempersembahkan hadiah terindah untuk hari pernikahan pujaan hatinya. Sebagai sahabat, Jeje hanya dapat mendukung dan membantunya.
         
          Selepas hujan, mereka telah bersiap-siap dengan mobil jeep nya untuk mencari ujung pelangi. Tapi sudah 15 menit perjalanan, pelangi pun tak nampak. Mereka mulai resah.

           “Thur, gimana nih? Harusnya kan pelangi udah ada daritadi.” Sahut Jeje yang kini sedang menyetir.

           “duh, tunggu sebentar lagi deh Je! Nanti pasti pelanginya muncul kok!” kata Arthur meyakini.

          Mereka pun melanjutkan perjalanan. Berjalan tanpa tujuan. Hanya menunggu pelangi, dan mengejarnya saat ia terlihat. Setelah cukup lama mereka berkeliling, akhirnya mereka menemukan pelangi itu.

           “Je! Itu dia pelanginya! Ayo kita kejar! Takut keburu hilang!” tunjuk Arthur dengan antusiasnya.

          Jeje mulai membelokan setirnya kearah pelangi itu. Mereka berusaha mengejarnya sampai keujung. Tapi sayangnya...

           “Ya ampun!!” Jeje terperangah saat melihat didepannya ada sebuah turunan yang sangat terjal (seperti jurang, hanya saja dibawahnya itu kebun teh) ada didepannya. Jeje pun menginjak rem mendadak. Beruntung mereka tidak terjatuh.

          Dengan kesal Arthur keluar dan menendang ban mobil.

           “SHIT!! DAMN IT MAN!!!” teriaknya kesal.

          Kalau sudah begini, bagaimana mereka bisa mengejar pelangi itu? dengan melompat kebawah dan berlari? Heh? Tidak mungkin!

           “Hmmmm” lagi-lagi Jeje hanya menghela nafas lelah. Ia ikut keluar dari mobil dan bersandar dipintunya. “Seandainya aja gue tau dimana pelangi ini terbentuk, kita pasti bisa motong jalan untuk sampe kesana!” gumam Jeje pasrah. Sejenak keadaan hening.

           “ya! itu dia! lo pinter banget Je!” puji Arthur sumringah sembari menepuk bahu Jeje pelan.

           “Loh? Kenapa?” tanya Jeje keheranan.

           “Pelangi terbentuk karna apa? pasti masing-masing di SD udah pada belajar dong?”

           “Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir bukan?”

           “that’s right!! Lo emang pinter banget deh Je!! SMART JEJE!!!” tepuk Arthur lagi yang kemudian berlari ke kursi setir.

          Jeje yang masih bertanya-tanya hanya mengikuti Arthur untuk masuk ke mobil. Kali ini Arthur yang menyetir. “Kita mau kemana sih Thur?”

           “Ke tempat dimana air itu berada.” Arthur hanya tersenyum sumringah. Membuat Jeje semakin bingung. Tapi Jeje manggut-manggut aja. siapa tau ditempat yang akan dituju Arthur ini pemandangannya bagus untuk ia jepret.

          Tak lama, mereka sampai pada sebuah sungai yang biasa dijadikan tempat wisata arung jeram di kawasan puncak. Atau lebih terkenal dengan nama DAS (Daerah Aliran Sungai) Ciliwung.

          "ujung pelangi!" gumam Jeje gembira. Begitu pun dengan Arthur yang menyaksikan pemandangan indah ini.

          Akhirnya mereka menemukan ujung pelangi disana. Sebelum pelangi ini menghilang, Jeje bergegas mengambil kameranya untuk memotret pemandangan alam nan indah ini. Sedangkan Arthur dengan sigap mengambil ponselnya untuk menelpon Mary. Saat ponsel sudah berada di genggaman, Arthur melihat sesuatu yang aneh. Ia lihat ada sepasang wanita dan pria. Seperti sepasang kekasih. Yang pria sedang berlutut di hadapan sang wanita sambil menyodorkannya sebuah cincin. Arthur masih penasaran dengan apa yang ia lihat. Untuk itu, ia mencoba untuk mendekat dan bersembunyi dibalik pohon besar dekat dengan tempat mereka berdiri.

          "APA?! Ini gak mungkin!!"
Arthur menggeleng tak percaya begitu melihat sepasang kekasih yang sedang ia lihat adalah dirinya dengan Mary. Rasa penasarannya tidak sampai disitu saja. Dia tidak mau pergi kesana, mengganggu mereka, dan bertanya 'apa yang terjadi?' Arthur lebih memilih diam dan memperhatikan mereka.

          "Mary, di ujung pelangi ini aku mau kamu tau, kalo aku mau serius sama kamu. Aku sayang sama kamu. Kamu mau kan nikah sama aku?" ungkap Arthur yang 'disana' pada Mary.

          Mary hanya terdiam sambil memandangi cincin yang ada di kotak merah itu.

          "kalo kamu mau nerima aku, kamu bisa ambil cincin ini dan pake itu ke jari manis kamu." tambah Arthur penuh harap.

          Mary mulai tersenyum dan mengambil cincin itu perlahan. Arthur tersenyum lega. "aku mau! Tapi..." kata Mary menggantung. Membuat senyum Arthur sedikit memudar. "...tapi tangkep aku dulu!" canda Mary yang kemudian berlari menjauhi Arthur. Ia berlari bak anak kecil. Menggemaskan meski sedikit meledek. Ini bukan kembaran Mary atau Mary yang lain, sepertinya ini benar-benar Mary asli. Tapi bagaimana mungkin? Mary kan sedang di rumah. Dan Arthur tau itu.

          "ih ngeledek? Awas kamu ya Ry!" Kata Arthur yang disana mulai mengejar Mary dengan riang.

          "Thur?" panggil Jeje sambil menepuk Arthur pelan.

          "eh iya Je?"

          "kok lu gak telepon Mary sih? Keburu hilang nih pelanginya!"

          "Marynya ada disana Je!" kata Arthur murung. Jeje menoleh kearah tempat yang sedang dipandangi Arthur. Tapi tak ada siapa-siapa disana!

          "mana Marynya? Gak ada kok!"

          "masa segede gitu gak liat? Itu! Disana!" kata Arthur menegaskan seraya menunjuk Mary dan Arthur yang 'disana' sedang berlarian. Tapi hasilnya sama saja. Jeje tetap tidak melihat apa yang Arthur lihat.

          "ini bener-bener udah gak wajar!" Arthur hendak menghampiri mereka dan melabraknya. Tapi sesuatu terjadi...

          Tiba-tiba saja warna pelangi itu memudar, lalu perlahan menghilang. Membuat Arthur yang 'disana' menghentikan larinya.

          "yah! Pelanginya ilang!" sahut Arthur.

          Mary pun menoleh kearah pelangi dibelakangnya. Dan tiba-tiba...
BYUR! Mary terpeleset tanah dan terjatuh kedalam aliran sungai Ciliwung yang sangat deras. Cincin yang ia genggam jatuh ketanah. Menghasilkan warna bintik-bintik pelangi yang dihasilkan oleh spektrum cahaya matahari ke berlian putih dipermukaan sungai. Waktu itu posisi Mary sangat dekat dengan tepian sungai. Jadi saat Mary menoleh kebelakang, kakinya terpeleset tanah yang ada di tepian sungai. Arus itu menerjang dan menyapu tubuh Mary entah kemana. Arus yang sangat kuat. Menerpa tubuhnya ganas. Pantas saja kawasan ini suka dijadikan wisata arung jeram.

          Niat Arthur untuk menemui mereka jadi hilang. Dan bodohnya, Arthur yang 'disana' tak berupaya untuk menolong Mary. Ia hanya berteriak memanggil nama "MARY!" saja. Bodoh sekali bukan?

          Menyaksikan semua itu. Tubuh Arthur tiba-tiba melemas. Badannya bergetar hebat. Matanya mulai memanas. Tak kuasa menahan air mata. Ia tak kuasa melihat orang yang ia cintai mati dihadapannya. Jantung Arthur semakin memacu dengan cepat. Darahnya mengalir dengan deras sederas aliran sungai ini. Arthur sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. Kerongkongannya yang gatal dan dadanya yang sesak memaksanya untuk berteriak.

          "MAAARRYYYY!"

          Arthur berteriak sekuat tenaganya. Lalu berlari dan menyeburkan diri ke dalam sungai.

          Jeje terkejut melihat aksi nekat Arthur yang tak beralasan itu. Ia masih tidak tau apa yang terjadi saat ini? "ARTHUURRRR!!"

***

          "MAAARRRRYYYYY!!!!!"

          kejadian itu terasa begitu cepat. Tiba-tiba saja Arthur terbangun. Dengan kain yang mengikat tangan dan kakinya di ranjang. Entah sejak kapan, ia sudah berada di rumah sakit. Seperti rumah sakit jiwa. Tertidur dan diikat.

          Ternyata itu semua cuma mimpi. Mimpi paling menakutkan yang pernah Arthur alami. Ia lihat sekeliling ruangan. Sepertinya ia sedang berada di ruang isolasi. Matanya tak henti mengitari setiap barang. Sampai matanya terfokus pada sebuah kotak merah berisikan cincin yang terbuka disamping meja. Ia lihat cincin yang sama. Cincin yang ia berikan pada Mary untuk melamarnya.

          "Mary?"

          kemudian ia melihat sebuah kalender yang tertempel didinding. Tepat berada didepan ranjangnya. Alangkah terkejutnya ia melihat bahwa sekarang sudah 1 bulan lewat dari tanggal ia menemukan ujung pelangi. Benar-benar sulit dipercaya!

          "SEBENARNYA ADA APA INI? APA YANG TERJADI??!" teriak Arthur kesal. Semua kejanggalan ini membuat Arthur bingung. Apa mimpi Arthur tadi adalah kenyataan? Tapi tidak mungkin! Arthur benar-benar yakin bahwa awal bulan Agustus ia baru saja bertemu Mary. Ia masih bisa melihat senyumnya saat ia melihat pelangi dan meminta Arthur untuk mengajaknya keujung pelangi. Semua itu terasa nyata. Dan saat ia menyeburkan diri untuk menolong Mary, tiba-tiba saja ia sudah berada disini. Di rumah sakit jiwa ini. Dan kini Arthur berada dalam waktu satu bulan kedepan. Tepatnya pada awal bulan September. Apa yang terjadi?

***

          Kau mau tau apa yang sebenarnya terjadi? Biar ku jelaskan!
          Sebenarnya waktu itu (pada awal Agustus) benar Mary meminta Arthur untuk mencari ujung pelangi. Ia ingin bisa menikah di tempat itu. Persis seperti dimimpinya. Setelah 3 hari berlalu, Arthur menemukan tempat itu. Dan secepatnya mengajak Mary kesana. Awalnya semua berjalan lancar. Arthur melamar Mary tepat diujung pelangi. Dan semua berjalan persis seperti dimimpinya. Mary tersapu arus di sungai. Tubuhnya seringkali berbenturan dengan batu-batu besar. Arthur mencoba menyelamatkan Mary dengan berenang mengejarnya. Tapi arus sungai yang terlalu deras membuat Arthur terseret. Arthur selamat karna ia tidak terbentur batu dan bajunya tersangkut pada ranting di tepian sungai. Tapi Mary tidak dapat terselamatkan. Jeje menemukan Arthur yang sedang pingsan saat ia sedang memotret pemandangan alam. Lalu Jeje membawa Arthur ke rumah sakit.

          Keesokannya, Jeje menemukan Mary sudah terbujur kaku tak bernyawa. Tempatnya tak jauh dari tempat Arthur pingsan. Jeje pun memakamkan jenazah Mary yang sudah pucat itu. Di saat itu pula Arthur tersadar. Ia mencari-cari Mary sampai akhirnya mengetahui bahwa Mary sudah tiada. Arthur tak dapat menerima itu. Hal itu membuatnya stress dan gila! Karna kelakuan Arthur yang semakin hari semakin membabi buta, Jeje dengan berat hati memasukan sahabatnya itu ke rumah sakit jiwa. Arthur masuk ke ruang isolasi. Karna ia suka menghancurkan semua barang yang ada didepannya. Tangan dan kakinya selalu diikat. Setiap hari ia selalu bermimpi hal yang sama seperti tadi. Bahkan setelah 1 bulan kepergian Mary pun Arthur masih terus memimpikannya. Dan setelah ia terbangun, pasti ia akan memberontak dan selalu meneriakan hal yang sama.

          "MARY! AKU UDAH NEMUIN UJUNG PELANGI RY! AYO KITA NIKAH!" keadaan masih hening. Arthur terus memberontak sekeras mungkin. Sampai kain yang mengikat kakinya robek.

          "RY! KAMU DIMANA? KAMU PULANG DONG! KALO KAMU PULANG SEKARANG, AKU JANJI BAKAL NGIZININ KAMU MAIN UJAN-UJANAN. NANTI KITA MAIN SAMA-SAMA!" kini kain yang membelenggu tangan dan kakinya sobek. Dan Arthur dapat bergerak bebas.

          "MAAARRRYYYYYYY!! AKU PUNYA HADIAH BUAT KAMU. KAMU KESINI DONG!" Arthur mengambil cincin pernikahannya. Ia genggam cincin itu kuat-kuat. Ia ciumi cincin itu penuh rasa rindu dan kelembutan. Tak lama, seseorang datang untuk membesuk. Ternyata itu adalah sahabatnya, Jeje.

          "Mary udah gak ada Thur. Lu harus bisa terima kenyataan!"

          "LU BOHONG! MARY ADA KOK DI RUMAHNYA! DIA CUMA LAGI TIDUR AJA. MUNGKIN DIA KECAPEKAN! BESOK KALO GUE UDAH KELUAR DARI PENJARA IDIOT INI, GUE BAKAL JEMPUT MARY BUAT NIKAH SAMA GUE! LIAT AJA NANTI!!"

          Sesungguhnya hati Jeje sangat terpukul melihat kondisi Arthur yang seperti ini. Mengapa akhirnya seperti ini? Mengapa harus sahabatnya yang mengalami hal seperti ini? Jeje berusaha membendung airmatanya. Ia kuatkan hatinya dan kemudian menghampiri Arthur sambil mengelus pundaknya lembut.

          "lo harus sabar Thur. Mary diatas sana pasti juga sedih kalo liat lo kaya gini.”

           “LO APA-APAAN SIH!!” Arthur mendorong tubuh Jeje kasar. Jeje tersungkur hingga membentur kaki ranjang rumah sakit. “MARY TUH MASIH HIDUP!! DIA PASTI SEKARANG LAGI TIDUR DIKAMARNYA. LAGI NUNGGU GUE BUAT NIKAHIN DIA!! DAN SEKARANG GUE UDAH NEMUIN UJUNG PELANGI. JADI LO GAK USAH SOK TAU!!! NGERTI??!”

           “TAPI THUR, MARY ITU UDAH MATI!!!” Jeje sudah tidak bisa bisa menahan emosinya lagi. Ia sadar, kekhilafannya itu dapat menjatuhkan dan menghancurkan mental Arthur. Tapi keadaan memaksanya untuk meneriakan hal itu.

          Sejurus kemudian Arthur terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar tidak bisa menerima kepergian Mary. Ia tatap sahabat yang tak dikenalinya lagi itu tajam. Matanya membulat memancarkan suatu rasa yang mendalam. Sebuah kemarahan dan penantian yang berujung dengan kematian. Mendapat tatapan bengis dari seorang Arthur, Jeje semakin bergidik ngeri.

           “ENGGAKK!!! LO BOHONG!!! DASAR PEMBOHOONGGGG!!!”

          BUK! Satu pukulan mendarat mulus di pipi Jeje. Arthur kembali berteriak histeris. Sebelum pukulan-pukulan berikutnya dijatuhkan kembali, para dokter dan suster sudah datang mencegah Arthur. Suntikan penenang dimasukan kedalam aliran darahnya. Dengan bersusah payah, akhirnya Arthur kembali tertidur. Para dokter dan suster kembali mengikat Arthur dengan rantai yang lebih kuat. Jeje tatap Arthur, nanar. Hal ini pasti akan terus berlanjut. Saat ia tertidur ia akan bermimpi hal yang sama, terbangun, dan kemudian meneriakan hal yang sama, lalu tertidur lagi, dan selalu terjadi seperti itu. Jeje tidak tahu dengan apa lagi yang harus ia perbuat. Ia hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa.


          Tak lama, hujan turun dengan derasnya. Entah kenapa hari ini cuaca sangat tidak bersahabat. Jeje melihat cincin Arthur yang terjatuh tak jauh dari tempat tidurnya. Ia pungut cincin itu dan ia genggam kuat-kuat. Jeje berjalan mendekati jendela sambil menikmati setiap tetesan hujan yang turun. Jeje membayangkan hujan ini adalah airmata Mary yang jatuh setiap kali melihat Arthur seperti ini. Ia yakin, Mary disana pasti sangat sedih. Bahkan disaat hujan berakhir pun tak ada pelangi yang nampak. Yang ada hanyalah bayangan Mary yang menangis melihat Arthur disini. Sungguh! Kini, Jeje benar-benar melihat bayangan Mary sedang menangis ‘disana’.

End

Gimana?
Semoga kalian suka ya~
Saran dan komen sangat dibutuhkan disini! Buat masukan kedepannya juga~
PLEASE DON'T BE SILENT READERS !!!!
Sebelumnya maaf ya kasih cerita basi alias cerita lama ('/\')
Cerita ini dulunya pernah dibukukan di antologi puisi dan cerpen 'Saat Kau Pergi' dalam bentuk cerpen.
See ya at next fanfiction (^o^)/
Read More

Kamis, 23 Agustus 2012

[Cerbung] Love in robotic humanity experiment #1


Genre : Science fiction, Romance, Action
Writter : Rasiva Nadila
Note :
Gomawo = terima kasih
waeyo? = kenapa?
jinjjja? = benarkah?
ne = iya
aniyo = tidak
mwo? = apa?
mian / mianhae = maaf
namjachingu = pacar (laki-laki)
yeoja = perempuan
namja = laki-laki


Tahun  2020,  di  Korea

Aku  baru  saja  merayakan  keberhasilanku  atas  penemuan  terbaruku.  Read  a  brain,  itulah  nama  dari  sebuah  alat  pembaca  pikiran.  Alat  itu  juga  mampu  me’reka’  kejadian  masa  lampau  yang  dilalui  oleh  seseorang,  dapat  juga  dijadikan  sebagai  terapi  pengingatan  bagi  penderita  amnesia.  Bentuknya  seperti  laptop  yang  memiliki  sambungan  gadget  yang berbentuk seperti  helm.  Saat  helm  yang  kunamai  main reader  ini  terpasang  dikepala  kita,  kita  hanya  perlu  menekan  tombol  waktu,  maka  kejadian  yang  pernah  kita  alami  dulu  dapat  terlihat  dimonitor.  Atau  kita  hanya  perlu  menekan  tombol  reading,  maka  apa  yang  sedang  kita  pikirkan  dapat  terlihat  di  layar  monitor  juga.

Berkat  penemuanku  ini  aku  cukup  banyak  mendapatkan  penghargaan.  Aku  senang  sekali.  Penemuanku  dapat  membuahkan  manfaat  bagi  orang-orang.  Semua  bertepuk  tangan  untukku  diacara  peresmian  hak  cipta  ini.  Rencannya,  aku  juga  ingin  mengajarkan  para  professor  junior  untuk  ikut  memberdayakan  ciptaanku  ini.

“Aelke,  selamat  yah  kau  berhasil  lagi!”  sambut  Sahabatku,  Park  min-hai  atau  lebih  kerap  disapa  Min-hai.
“Ne, Gomawo!”  Kataku  seraya  membungkukan  badan.  “bagaimana  dengan  kabarmu?  Kau  pasti  telah  banyak  menciptakan  penemuan  yang  hebat!”  pujiku  pada  sahabat  seangkatanku  yang  sudah  lama  ini  tidak  kutemui.
“ah,  aniyo..  karyaku  tidak  begitu  dihargai  banyak  orang!”  ucap  Min-hai  menggeleng  cepat.
“jangan  begitu!  Pasti  suatu  saat  nanti  kau  bisa  menjadi  professor  yang  hebat!”  supportku.
“Ne,  semoga  perkataanmu  benar ya!  Oh  iya,  apa  sekarang  kau  sudah  memiliki  namjachingu?”
“emm..  Ani,  aku  belum  punya  namjachingu.  Waeyo?”
“jinjja?  Tidak  mungkin  yeoja  cantik  berdarah  Korea-Jepang  ini  tidak  punya  namjachingu.  Apa  kau  terlalu  sibuk  unnie?”
“hemm..  mungkin.  Aku  tidak  terlalu  tertarik  dengan  hal-hal  seperti  itu.  aku  lebih  suka  dengan  dunia  ilmu  pengetahuan  dan  sains!” 
“Aelke..  aelke..  kau  ini,  dari  dulu  sampai  sekarang  tidak  pernah  berubah!  Selalu  saja  begitu!  Padahal  diluar  sana  banyak  namja-namja  tampan  yang  mau  denganmu,  tapi  kau  tetap  saja  menutup  pintu  hatimu!  Aku  sedikit  iri  padamu!”  kata  Min-hai  tertawa  sambil  menepuk-nepuk  pundakku.
“ah,  kau  Min-hai.  Bisa  saja!”  ucapku  tersipu  malu.

***

Setelah  sukses  dengan  read  a  brain,  kini  aku  mulai  berencana  untuk  membuat  robot  berstrukturkan  manusia.  Mungkin  dizaman  sekarang  robot  sudah  dijual  dimana-mana  dengan  harga  yang  dapat  dijangkau  kalangan  menengah  sampai  highless.  Dari  mulai  robot  pembuat  makanan,  robot  dance,  robot  pemadam  kebakaran,  robot  sahabat,  robot  mainan  anak-anak,  dan  banyak  lagi..

Ya,  robot  yang  akan  kuciptakan  ini  agak  sedikit  berbeda  dari  biasanya.  Mungkin  ini  yang  akan  membedakan  ciptaanku  dari  yang  lainnya.  Bentuknya  sangat  mirip  seperti  manusia.  Kulitnyapun  dibuat  dari  bahan  kimia  yang  teksturnya  hampir  mirip  seperti  manusia.  Bahkan  robot  ini  juga  memiliki  struktur  tulang  (buatan)  dan  otot  (buatan)  layaknya  seperti  manusia.  Ia  juga  diberi  akal  pikiran  yang  diprogram  berdasarkan  chip  kecil  yang  terpasang  dibagian  kepalanya.

Robot  ini  sangatlah  kuat.  Bahkan  kekuatannya  dapat  mengangkat  1  buah  pesawat  tempur,  meskipun  tingginya  tidak  lebih  dari  180  cm.  Robot  ini  dapat  melakukan  aktifitas  seperti  manusia  dengan  pikirannya.  Seperti  berjalan,  menyanyi,  menari,  memasak.  Selain  itu  ia  juga  memiliki  berbagai  macam  perkakas  yang  dapat  leluasa  ia  gunakan  kapan  saja.  Tugasnya  untuk  melindungi ,  melakukan  misi  rahasia  yang  berbahaya,  dan  semacamnya.

Namun,  aku  ragu  tidak  dapat  membuat  robot  ini  dengan  jumlah  banyak.  Karna  untuk  memprogram  chip  sebagai  otak  dari  robot  ini  saja  memakan  2  tahun  lamanya.  Prosesnya  sangatlah  rumit.  Benar-benar  membutuhkan  kesabaran  dan  ketelitian  tingkat  tinggi!

2  tahun  berlalu...
Aku  sudah  selesai  dengan  berbagai  macam  serangkaian  pembuatan.  Kini  tinggal  proses  finishing.  Setelah  semua  program  selesai,  aku  langsung  menekan  tombol  enter  dan  proses  loading  untuk  men-save  pun  dimulai.

Kulihat  kolom  loading  masih  mencapai  17%.  Sedang  asik-asiknya  menatap  layar  komputerku,  seseorang  menggenggam  pundakku  dengan  sedikit  mencengkeramnya.
“Aelke?”
“Haaaahhh???!!”  aku  berteriak  karna  kaget.
“m..mian  telah  mengaggetkanmu!”
“oohh..  huhh..  ani..  tidak  apa-apa.  aku  hanya  sedikit  kaget,  min-hai!”  ucapku  sembari  kembali  mengatur  nafas.  “sejak  kapan  kau  ada  disini?”  tanyaku  kemudian.
“tadi  aku  hanya  sekedar  mampir  ke  ahjussi  yang  menjual  buah  diseberang  sana.  Karna  dekat  dengan  lap  mu,  aku  putuskan  untuk  mampir..  “jelasnya.
“oooh..  begitu.”  Kataku  singkat.
“namja  yang  terbaring  di  etalase  itu  siapa?  Mengapa  banyak  kabel  menempel  disekelilingnya?”  tanya  Min-hai  lalu  mendekati  robotku  dan  hendak  menyentuhnya.
“JANGAN  SENTUH  ITU!!”  kataku  melompat  menghadang  Min-hai.
“wo..  waeyo?”  Min-hai  terlihat  sangat  kaget.
“umm..  mian  sudah  membuatmu  terkejut.  Ini  bukan  manusia!  Ini  hanya  robot  yang  berstrukturkan  manusia.  Bentuknya  memang  sangat  mirip  dengan  manusia.  Ini  masih  tahap  finishing.  Dan  nanti  akan  memasuki  masa  percobaan.  Jadi  kuharap  tidak  ada  yang  menganggunya  dulu.”  Jelasku.
“oh  begitu.  Kalo  yang  sedang  dalam  proses  loading  itu  apa?”
“kalau  itu  adalah  otak  /  akal  dari  robot  ini.  Dengan  itu,  robot  ini  bisa  menjadi  seperti  manusia  seutuhnya  dan  bla  bla  bla~”  aku  menjelaskan  semuanya  secara  rinci  pada  Min-hai.
“wah,  hebat  sekali!!  Aku  kagum  padamu!  Bahkan  kau  bisa  menciptakan  namja  setampan  ini!  Kapan  kau  akan  meresmikannya?”
“mungkin  beberapa  bulan  setelah  masa  percobaan.”

“Oohh..  hemm...”  Min-hai  berdehem  sejenak.  Terlihat  dari  wajahnya,  nampak  ia  sedang  berpikir.
“kenapa  Min-hai?”
“ah,  aniyo..  tidak  apa-apa..  oh  iya,  kau  lapar  tidak?  Aku  bawakan  apel  kesukaanmu !  Kau  suka  kan?!  Bagaimana  kalau  kau  pergi  kedapur  dan  membuatkan  kita  dua  gelas  jus  apel?  Aku  sangat  merindukan  jus  apel  buatanmu!”   kata  Min-hai  mengarahkanku  kedapur.
Hemm..  mengapa  gayanya  jadi  agak  aneh  ya?  sudahlah!  Mungkin  Cuma  perasaanku  saja!
Aku  pun  membuatkan  2  buah  jus  apel  untukku  dan  Min-hai.

“Min-hai..  ini  jus  apelnya!”  kataku  sambil  membawakan  nampan  berisi  gelas.
“oh.  ne,  gomawo  Aelke!”  katanya  sambil  menerima  jusku.
“ne,  cheonmal  Min-hai.”  Balasku  tersenyum.
Min-hai  tersenyum  tipis  sambil  menyeruput  jus  apelnya.  Namun,  aku  merasa  ada  yang  berbeda  dari  senyumannya.  Ada  apa  dengannya?  Ah,  sudahlah!  Lupakan  Aelke!  Dia  itu  sahabatmu,  kau  tidak  boleh  berpikiran  yang  macam-macam!  Pikirku  merutuki  diriku  sendiri.

bersambung...
Read More

Selasa, 21 Agustus 2012

[Cerpen] Darah dibalas dengan darah


Genre : Action
Writter : Rasiva Nadila
Created : 31 desember 2011 11:56

Pagi berganti malam. Sedari tadi ponselku bergetar menandakan telpon masuk. Tapi aku tak memperdulikannya. Aku masih terduduk dihadapan komputer sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Yap, malam ini aku lembur.

“Sha, gue pulang duluan ya.. lu gak pulang?” ucap seorang rekan kerja, sekaligus sahabat baikku, Kevin.
“gue masih banyak kerjaan nih. Nanti juga gue pulang. Lu duluan aja..”
“lu udah bilang sama istri lu kalo lu lembur?”
“Iya. Gue udah bilang kok. Tenang aja...”
“oh yaudah deh, gue duluan ya...”
“Iya...”

Akhirnya tinggal aku seorang diri dikantor tersebut. Hanya ada beberapa satpam yang sedang berjaga malam yang suka melewati ruanganku. Aku tetap fokus menatap layar komputerku sambil menyelesaikan pekerjaanku ini. Setelah pekerjaanku selesai. Aku pun bergegas mengemas barang-barangku untuk kemudian pulang kerumah. Tetapi aku teringat dengan ponselku yang sedaritadi berbunyi. Aku pun membuka ponselku dan ternyata sudah ada 10 panggilan tak terjawab dan 3 pesan dari istri tercintaku.

~Pesan pertama~
“Pa, bisa tolong pulang sekarang gak? Daritadi mama ngerasa ada sekelompok orang aneh yang ngeliatin rumah kita. Mm takut.”

~Pesan kedua~
“Pa, apa papa terlalu sibuk sampai gak sempet bales SMS mama? Papa lebih mentingin pekerjaan papa daripada keluarga kita?”

~Pesan ketiga~
“PAPA, TOLONG MAMA.. TOLONG ANAK-ANAK KITA. ADA ORANG JAHAT YANG MAU NYELAKAIN KELUARGA KITA!! PAPA TOLONG PULAANGG!!”

Sontak, aku pun terkejut membaca pesan dari istriku yang ternyata sudah ia kirim dari sejam yang lalu. Aku pun memacu motorku dengan kencangnya dan segera pulang kerumah.

Sesampai disana, aku benar-benar kaget melihat rumahku sudah hancur berantakan. Pintunya terbuka seperti didobrak dengan paksa. Kacanya pecah tak karuan. Seisi rumah benar-benar telah habis berantakan.

“Chelsea.. Baim.. Nizam..” panggilku kepada istri dan kedua putraku.
Tak ada jawaban. Yang kudapat hanyalah keheningan. Aku mencari sudut demi sudut dan mendapati kedua anakku tewas mengenaskan didapur rumahku sendiri.
“Baim? Nizam?”
Aku berlari memeluk kedua putraku itu. Tubuhnya yang mungil bersimbah darah yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Aku tak kuasa melihat semua ini. “Siapa yang telah melakukan semua ini?”

Aku pun kembali mencari istriku. Ruangan demi ruangan ku lewati. Dan akhirnya aku mendapati istriku tengah tertidur diatas ranjangnya dengan berbalutkan selimut. Keanehan menyelimuti diriku. Mengapa hanya kamarku yang rapi dan tidak berantakan? Aku pun menghampiri istriku sambil membelai lembut rambutnya.
“Sayang, Baim sama Nizam kenapa? Apa yang terjadi? Bilang sama aku sayang..”
Tak ada respon dari Chelsea. Aku pun mulai curiga dengan semua ini. Aku membuka selimutnya dan ternyata kecurigaanku benar.

Ada pisau yang tertancap tepat dijantung istriku itu hingga ia harus pergi ke sisi Tuhan. Aku menangis. Menjerit kesal dengan semua kenyataan ini. Aku menyesal. Kalau saja aku mengangkat telfonnya dan segera pulang, semuanya tidak akan jadi seperti ini..!!

Aku pun mencabut pisau dari jantung istriku itu. Ku pandangi pisau pembunuh itu lekat-lekat. Dan aku menemui tulisan ‘Chandra winata’ berada diatasnya. Mengingatkanku pada sodara kembarku ‘Marcell’ dan kejadian beberapa tahun lalu...

***
Marcell Chandra winata adalah sodara kembarku. Tak jauh berbeda dengan namaku ‘Misha Chandra winata’ kami lahir dari rahim yang sama.. hanya saja, ibu terlalu menyayangiku dan ayah terlalu memanjakan Marcell. Sampai akhirnya ayahku terkena serangan jantung karena faktor umurnya. Saat itu, kami berumur 10 tahun dan Marcellah yang paling bersedih atas kematian papa. Aku berusaha tegar menghadapi semua itu. Karena sebagai kakak. Aku harus memberikan contoh yang baik kepada Misha. Tapi Marcell tetap tidak menerima kematian papa.

2 tahun berlalu...
Ibu tetap lebih memperhatikan aku daripada Marcell. Bahkan ia sempat membanding bandingkan Marcell denganku karena mendadak nilai Marcell turun drastis sedangkan aku selalu ranking 1. Semua itu sulit diterima Marcell. Sampai suatu hari, aku baru pulang dari sekolah. Dan tiba-tiba saja aku sudah menemukan ibuku terkapar tak bernyawa dengan pisau tertusuk dijantungnya. Aku menangis melihat semua itu. Dan Marcell juga ada dihadapan ibunya. Tapi ia tampak tidak bersedih sama sekali. Aku mencabut pisau itu dan menemukan tulisan ‘Chandra winata’ berada diatasnya.
“Siapa yang sudah...”
“akulah yang telah membunuh ibumu, Misha!” Marcell menyela pembicaraanku.
“APA? bagaimanapun ini juga ibumu, MARCELL!”
“itu ibumu! BUKAN IBUKU! Yang aku punya hanyalah AYAH! Dan sekarang ia telah pergi. Sekarang biar kau rasakan apa yang ku rasakan!!”
Setelah itu Marcell menghilang entah kemana. Sementara aku diasuh oleh nenek dan kakekku hingga aku tumbuh besar dan memiliki keluarga baru.

***
Aku tak menyangka keluargaku dibunuh oleh SODARA KEMBARku sendiri? Beribu airmata, tangis, dan penyesalan menyelimuti diriku. Aku pun memutuskan untuk menghubungi Kevin, dan tinggal dirumahnya untuk sementara waktu.
“Vin, gue janji. Kalo gue udah punya cukup uang. Gue bakal nyari kontrakan sendiri.”
“udah Sha, lagian gue kan juga belum berkeluarga. Lu bebas kok tinggal kapan aja. Gak usah sungkan-sungkan ya.. gue kan sahabat lo juga :)”
“Iya. Makasih banget ya Vin!” kataku sambil tertunduk lesu.
“oh ya, ngomong-ngomong siapa sih yang udah ngelakuin semua itu sama lo?”
“MARCELL, Vin! SODARA KEMBAR gue sendiri!!”
“Apa? Sodara kembar lo sendiri? Terus gimana? Masa lo diem aja? Ini namanya kasus pembunuhan berantai!! Bisa-bisa lo juga nanti yang dibunuh Sha..!!!” kata Kevin.
“maksud lo?”
“DARAH HARUS DIBALAS DENGAN DARAH!!”
Seketika itu juga aku berfikir. Mengapa aku hanya menangis? Seharusnya aku marah! Dia telah membunuh ibuku dan juga keluargaku. Sekarang dia benci padaku karna kesalahan yang sama sekali tidak ku perbuat!!
“lo bener Vin. Gue harus bales dia!! meskipun dia sodara kembar gue sendiri, tetap DARAH HARUS DIBALAS DENGAN DARAH!”
“iya Sha, gue juga bakal bantuin lo kok.. lo tenang aja ya... ;)” hibur Kevin.

***
“Sha, gue tau orang yang bisa ngelatih kita dalam persenjataan.” Kata Kevin sambil menunjukan tulisan dikoran.
“Tantowi Yahya?”
“iya. Kita bisa berguru sama dia. siapa tau kita bisa balesin dendam lo itu!!”
“lo bener Vin. Lo emang the best deh buat gue.. thx ya :D”

Akhirnya aku pun menemui orang yang bernama ‘Tantowi yahya’ itu. Ternyata benar saja. Dia sangat ahli dalam persenjataan. Hanya saja dikoran dikabarkan dia telah pensiun dari pekerjaannya itu. Aku mulai ragu. Tetapi aku tetap tak patah semangat.

TOK.. TOKK.. TOKKK...
“siapa?” terdengar suara lelaki tua dari arah dalam.
“Maaf apa kami bisa bertemu dengan Tantowi yahya?.”
“siapa kau?” lelaki tua itu pun membukakan pintu untuk kami.
Aku pun memperkenalkan diri dan temanku. “ka..kamu?” lelaki itu seperti kaget saat telah melihatku.
“kalau boleh. Saya ingin berguru pada bapak. Boleh?”
“Ngapain kamu kesini, Marcell? PERGI KAU DARI SINI!!.”
Ia pun hendak menutup pintu. Tetapi aku menjegatnya dan berkata...
“Pak saya bukan Marcell. Saya Misha sodara kembarnya. Please pak.. saya mohon.. saya harus berguru sama bapak! Keluarga saya dibunuh sama Marcell. Saya harus balesin dendam saya sama dia!!”
Orang itu pun terdiam. Lalu menatapku penuh rasa kasihan.
“Apa kamu benar-benar bukan Marcell?”
“Iya om. Saya berani jamin. Ini teman saya. Dan dia bukan MARCELL!” kata Kevin meyakinkan.
“baiklah, nak. Ayo masuk!!”

Orang itu pun mempersilahkanku untuk duduk di ruang tengahnya yang penuh dengan pajangan senjata.
“emm.. om yahya. Ngomong-ngomong apa om kenal dengan kembaran saya?”
“Iya, nak. Om yang ngurus dia dari kecil. Waktu itu om nemuin dia di deket pertokoan. Dia sendirian. Akhirnya om yang ngasuh dia karena sampe istri om meninggal. Om sama sekali belum punya anak. :(“
“lalu sekarang dia kemana om?” tanya kevin semakin penasaran.
“dia pergi. Dia mendirikan markasnya sendiri dan membuat mafia baru. Om ngajarin dia ilmu persenjataan dari kecil. Supaya dia bisa jadi orang yang hebat. Tapi dia malah makin besar kepala. Dia ingin merebut semua senjata rahasia om buat kesenangan dia pribadi. Tapi om gak mau. Senjata itu bukan buat membunuh. Tapi untuk melindungi. Tapi dengan banyaknya anak buah yg dia milikin. Dia bisa aja melakukan apa saja!” jelas om yahya.
“terus dia berhasil bawa senjata itu?”
“enggak. Om udah taruh senjata itu ditempat yang orang-orang pasti gak akan tau!”
“Om bisa ajarin kita? Demi om, demi ibu, dan keluarga saya. Saya bersumpah akan membalas kematian mereka om!!” kataku dengan semangat.
“baiklah. Om akan mengajarkan kalian :)”

***
Beberapa tahun kemudian...
Dengan sabar dan telaten, om yahya mengajariku semua ilmu beladiri dan persenjataannya. Dan semakin hari tanganku mulai terlatih memegang senjata. Aku siap untuk MEMBUNUH!!

“Misha, perlu kau ketahui nak. Mengalahkan Marcell bukanlah hal yang mudah. Dia sudah terlatih karena dia sudah mengenal senjata dari kecil. Bahkan saat ia membunuh ibumu. Dia sudah punya insting untuk membunuh!! Kau harus berhati-hati, nak!!”
“tenang saja, om. Saya pasti bisa mengalahkannya!”
“oh ya, dan satu lagi..!!! JANGAN TERKECOH DENGAN WAJAH MALAIKATNYA!! Karna dia tetap seorang PEMBUNUH!!”
“iya om.” Kataku dengan bersemangat.

Aku pun bergegas pergi ke markas Marcell itu berada. Sesampainya disana, aku melihat tempat itu layaknya bar clubbing. Tapi aku tetap memasuki tempat itu dan melabraknya.
“Angkat tangan semuanya!!”
Suaraku memecah suasana. Keramaian berubah menjadi kesunyian.
“dimana MARCELL CHANDRA WINATA??” bentakku
Dari sekian banyak orang tak ada satupun yang menjawab. Semua orang hanya tiarab seolah tak berdosa.
“mencariku?”
Marcell pun muncul dari arah belakang dengan menodongkan pistolnya ke punggungku.
Untung saja Kevin menyelinap dibelakang bar untuk melihat situasi dan...
DUARRRRRR... Kevin menembak beberapa pengawal Marcell dibelakangku dan mengagetkan suasana.
Aku pun memukul kepalanya dan pergi bersama kevin.
“Hey kau! Tunggu!!!”
Marcell pun berlari mengejarku. Dan akhirnya terjadilah insiden tembak-tembakan dan perkelahian antara aku dan kelompok Marcell.

Suasana semakin panas. Tetapi aku berhasil membunuh sekian banyak anak buah Marcell. Sehingga sekarang Marcell tinggal seorang diri. Marcell mulai panik. Dan akhirnya dia berlari menemuiku dan berteriak...
“Hey kau, tunggu... sebenarnya dialah MARCELL!! Aku MISHA!!!” Marcell semakin memutar balikan fakta.
Dan anehnya, kini marcell berpakaian sama denganku.
“APA?” Kevin pun kaget. Ia menodongkan pistolnya padaku. Aku semakin melangkah mundur.
“Tidak Kevin. Dia BOHONG!! Akulah Misha kau harus percaya padaku!!” kataku mencoba meyakinkan.
“dia BOHONG!! Ayolah Kevin.. kau sahabatku. Kita teman bukan!!” ucap Ricky semakin menjadi-jadi.
“SIAL..!! kenapa muka kalian mirip sekali..??? sebenarnya yang mana Misha yang asli..???”
“Kevin, gunakanlah mata hatimu!! Dan lihatlah siapa sahabatmu sebenarnya!!!” aku pun menatap Kevin penuh harap.
Kevin tetap menodongkan pistolnya antara kearahku dan kearah Marcell.
“jika kau merasa aku adalah Marcell, tembak saja aku.. jika kau merasa dialah yang Marcell, tembak dia!! aku rela mati demi sahabat...” tantang Marcell.
Mata marcell berbinar-binar menatap kevin. Seolah ingin meminta belas kasihannya. Tapi aku teringat dengan perkataan om yahya. Aku tidak boleh terkecoh dengan wajah malaikatnya.

“AAAAAAAAAAAAA....... DIAAAAAMMMMMMMM...!!!!” Kevin mulai frustasi. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan.
“gue udah gak sanggup Sha nanggung semua ini. Daripada gue salah memilih dan ngebunuh sahabat gue sendiri, lebih baik gue MATI!!”
Kevin pun menodongkan pistol kekepalanya dan menembak kepalanya sendiri.
“TIDAAKKKKK...!!!!!!!!”
Aku pun berlari menghampiri Kevin. Di sisa akhir hayatnya Kevin berkata dengan terbata-bata...
“gu.. gue tau pasti lo mi... sha yang se.. benarnya. Ma.. af ha.. rus nge.. lakuin i..ni..”
“KEVIIINNN.....!!!!”
Semua sudah terlambat. Ia mati dengan jasa besar dan kehormatan atas persahabatannya..
“DARAH HARUS DIBALAS DENGAN DARAH!!” gumamku dengan dendam yang semakin membara.

“hahahaahaha... senang bisa menghancurkan hidupmu, KEMBARANKU!!” Marcell tertawa sinis.
“dasar kau MANUSIA BIADAB!!”
“sekarang kau merasakan kan, bagaimana penderitaanku?? So, selamat tinggal kak!”
Marcell pun menodongkan pistolnya kearahku. Namun saat ia hendak menembakku, tiba-tiba seseorang telah menembak dadanya dari arah belakang.

“om.. om Yahya???”
Ternyata itu adalah om yahya yang menembak marcell dari belakang dengan senjata rahasianya.
“Maaf datang terlambat, nak..” kata om franklin sambil tersenyum padaku.
Kami pun menghampiri Marcell yang tinggal sekarat itu.
“Pa..pa..papa?” mata Marcell terbelalak melihat sosok om Yahya yang sudah mengasuhnya dari kecil.
“jangan panggil aku Papa. Dasar iblis bermuka malaikat!!”
“Aku min... ta ma....af pada...mu Mis... Sha. Sebe... narnya. Aku ha... nya ke... sal pada...mu. dan se...sung... guhnya a...ku sa...ngat me...nya...yangimu. kar...na ki..ta te.. tap la..hir da..ri ra... him yang sa... ma!!!”
Suara Marcell terbata-bata dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya tepat dihadapanku. Entah kenapa tiba-tiba airmataku menetes. Mengalir membasahi pipiku. Aku pun menangisi kepergian sahabatku, Kevin. Dan sodara kembarku, Marcell.
“Sudahlah, nak. Tak apa.. kau harus mengikhlaskannya.

***
Beberapa minggu kemudian...
Aku tinggal di rumah om Yahya dan diangkat menjadi anaknya. Sekarang hidupku tenang dan tak ada yang menggangguku lagi. Tatapi sejak kematian mereka, aku mulai berfikir.
“om Yahya.. apakah aku orang yang terlalu egois?”
“menurutmu?”
“seharusnya aku tidak bersikap egois dan dendam seperti ini. Ini semuakan hanya kesalah pahaman saja.. aku menyesal, om... aku jadi kehilangan sahabat dan sodara kembarku sendiri. Padahal hanya merekalah yang aku punya saat ini..”
Aku tertunduk lesu sambil merenung.
“apa maksudmu, nak?”
“Darah harus dibalas dengan darah!!”
Aku pun menatap om Yahya tajam.
“Misha?”
*misha mengeluarkan pistol* DUUUAAARRRRR....
Read More

© Rasiva's Blog, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena